Kebiasaan membiarkan charger HP tetap terpasang di stop kontak meski tidak digunakan masih sering ditemui. Sebagian orang menganggap ini hal sepele, sementara yang lain khawatir kebiasaan tersebut diam-diam membuat tagihan listrik membengkak. Pertanyaannya, apakah benar dampaknya sebesar itu?
Jawabannya: tidak signifikan, tapi tetap ada.
Charger yang tetap terpasang tanpa digunakan memang masih mengonsumsi daya listrik. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau vampire power, yaitu listrik yang tetap mengalir ke perangkat meskipun tidak sedang digunakan secara aktif.
Pengujian dari How-To Geek menunjukkan bahwa satu charger yang tidak digunakan hampir tidak terdeteksi konsumsi dayanya. Bahkan ketika beberapa charger dipasang sekaligus, total konsumsi listriknya hanya sekitar 0,3 watt.
Untuk memahami dampaknya, kita bisa menghitung konsumsi dalam setahun.

0,3 watt × 24 jam × 365 hari ≈ 2,6 kWh
Dengan asumsi tarif listrik rumah tangga sekitar Rp1.500 per kWh, maka biaya yang muncul hanya sekitar Rp4.000–Rp5.000 per tahun. Angka ini sangat kecil dan praktis tidak terasa dalam tagihan bulanan.
Perbandingan Konsumsi Listrik Perangkat Rumah Tangga
Agar lebih kebayang skalanya, berikut perbandingan konsumsi listrik beberapa perangkat umum:
| Perangkat | Daya Rata-rata | Konsumsi per Tahun (Estimasi) | Biaya per Tahun |
|---|---|---|---|
| Charger HP (idle) | 0,3 watt | ± 2,6 kWh | ± Rp4.000 |
| Lampu LED | 10 watt | ± 87 kWh | ± Rp130.000 |
| TV LED | 80 watt | ± 700 kWh | ± Rp1.050.000 |
| Kulkas | 150 watt | ± 1.300 kWh | ± Rp1.950.000 |
| AC | 400–800 watt | ± 2.000+ kWh | ± Rp3.000.000+ |
Dari tabel ini terlihat jelas bahwa kontribusi charger HP terhadap total konsumsi listrik sangat kecil. Perangkat seperti AC, kulkas, dan televisi jauh lebih dominan dalam menentukan besar kecilnya tagihan listrik.
Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Charger
Meski rata-rata kecil, konsumsi daya charger tetap bisa berbeda tergantung beberapa faktor:
1. Kualitas charger
Charger original atau bersertifikasi biasanya lebih efisien. Charger murah atau tidak jelas kualitasnya bisa memiliki konsumsi standby yang lebih tinggi.
2. Teknologi fast charging
Charger dengan fitur fast charging (20W, 30W, atau lebih) tetap dirancang efisien saat idle, tetapi dalam kondisi tertentu bisa sedikit lebih boros dibanding charger standar.
3. Usia perangkat
Charger lama cenderung kurang efisien dibanding model terbaru yang sudah mengikuti standar hemat energi.
Perlukah Charger Dicabut?
Dari sisi biaya listrik, mencabut charger sebenarnya tidak wajib karena penghematannya sangat kecil. Namun, ada beberapa alasan lain yang tetap relevan:
- Mengurangi risiko panas berlebih atau korsleting
- Menjaga umur charger lebih panjang
- Mengurangi konsumsi listrik secara keseluruhan, meskipun kecil
Selain itu, praktik ini juga bisa menjadi bagian dari kebiasaan hemat energi dalam jangka panjang.
Meluruskan Mitos yang Beredar
Ada anggapan bahwa mencabut dan memasang charger berulang kali justru lebih boros listrik. Secara teknis, memang ada lonjakan daya sesaat saat charger pertama kali dicolokkan, dikenal sebagai inrush current. Namun, lonjakan ini terjadi dalam waktu sangat singkat dan jumlah energinya sangat kecil.
Artinya, efeknya terhadap konsumsi listrik hampir tidak ada.
Kesimpulan
Membiarkan charger HP tetap terpasang tidak akan membuat tagihan listrik melonjak. Konsumsi dayanya sangat kecil, bahkan jika dibiarkan selama setahun penuh.
Jika tagihan listrik terasa tinggi, penyebab utamanya hampir pasti berasal dari perangkat dengan daya besar seperti AC, kulkas, atau pemanas air. Charger HP bukan faktor yang signifikan.
Meski begitu, mencabut charger saat tidak digunakan tetap menjadi kebiasaan yang baik dari sisi keamanan dan efisiensi jangka panjang.
